Kembali ke Daftar Berita
Prestasi

Tak Sengaja Memilih Cerpen, Difa Carissa Justru Melaju ke FLS3N Tingkat Nasional

Alvaro Pratomo 11 Sep 2026 320 Dilihat 0 Dibagikan
Bagikan: X
Tak Sengaja Memilih Cerpen, Difa Carissa Justru Melaju ke FLS3N Tingkat Nasional

Pamulang, Banten—Berawal dari keraguan dan pilihan yang nyaris hanya menjadi “opsi aman”, Difa Carissa justru menemukan bakat menulisnya hingga berhasil meraih juara 1 FLS3N tingkat Provinsi Banten dan mewakili Banten di tingkat Nasional.

 

Cerpen bukanlah pilihan pertamanya ketika mendengar informasi FLS3N. “Ikut apa engga ya?” Soalnya sudah kelas 11 akhir, takutnya mengganggu proses belajar kelas 12” ujarnya mengenang keraguan awalnya. Sempat diarahkan gurunya, Bu Indri Apriliani, untuk mendaftar komik digital, Difa justru berpindah ke baca puisi sebelum akhirnya mendarat di cerpen — bidang yang paling sepi peminat, dan karena itu ia anggap paling aman dari seleksi ketat.

 

Rencana itu tak berjalan mulus. Ternyata ada siswa lain yang mendaftar cerpen, sehingga Difa tetap harus mengikuti seleksi internal sekolah tanpa persiapan matang. Selama ini, siswi kelas XII.1 Tahfidz SMAMDUMA itu terbiasa merangkai narasi berbahasa Inggris di platform Wattpad, sehingga ia sempat pesimis dengan kemampuan menulisnya dalam bahasa Indonesia.

 

Titik Balik Lewat Sejarah


Persiapan Difa menuju tingkat kota sempat minim, bahkan direvisi besar baru sehari sebelum lomba dilaksanakan. Kesalahan yang disadarinya: cerpen awal belum mengangkat unsur budaya. Berbekal ketertarikannya pada sejarah, ia mengangkat kisah “Sedulur Singkep” dalam waktu 1 malam dengan bimbingan Ibu Siti Rahmi, Keputusan mendadak itu sempat membuatnya ragu, tetapi justru menjadi salah satu kekuatan cerpennya di tingkat kota.

 

Sejak itu, sejarah menjadi fondasi tetap dalam tulisannya: perjuangan, tragedi dan keluh kesah perempuan yang ia bumbui dengan ironi beserta paradoks yang membuat karakter dalam cerpennya terasa seperti refleksi dirinya sendiri.

 

Juara, namun Diliputi Rasa Takut


Ketika namanya diumumkan sebagai juara 1 tingkat provinsi Banten, kebahagiaan Difa bercampur cemas. “Senang, tapi takut” katanya, sebab gelar itu belum otomatis membawanya ke tingkat nasional. Ia masih harus mengikuti babak penentuan untuk memperebutkan tiket mewakili Banten.

 

Menurut Pak Julian Pranata, S.H., Gr., pembina yang mendampinginya selama pelaksanaan FLS3N, babak final berlangsung di luar dugaan. “Difa ditantang membuat cerpen baru, langsung di tempat, dengan durasi waktu yang disingkat,” ungkapnya. Instruksi itu tidak tercantum dalam jadwal resmi dan baru diberitahukan pada hari pelaksanaan, hal ini mengejutkan Difa maupun kompetitornya. Meski di bawah tekanan ketat dan rasa panik, Difa berhasil tampil maksimal dan dinyatakan lolos mewakili Banten ke FLS3N nasional.

 

Dukungan yang Tak Menuntut Menang


Ibunda Difa mengaku sempat terkejut anaknya terpilih ikut lomba cerpen, apalagi Difa belum pernah berkompetisi menulis sebelumnya. “Yang penting Difa berani mencoba dan menjalani prosesnya,” ujarnya. Ia melihat sendiri bagaimana sifat perfeksionis putrinya membuat naskah dirombak berkali-kali, di tengah kesibukan bimbingan belajar TKA,

 

Pak Julian menilai kunci keberhasilan Difa ada pada kematangan persiapan meliputi riset, latihan menulis dan referensi yang selalu ia siapkan sebelum tampil.

 

Menatap Panggung Nasional

Kini sebagai perwakilan dari Provinsi Banten, Difa akan bersaing dengan peserta terbaik dari seluruh Indonesia. Orang tuanya berharap ia menjalani prosesnya dengan tenang, tanpa terbebani target menang.

 

Bagi Difa sendiri, perjalanan ini mengajarkan satu hal: jangan pernah meragukan diri sendiri. “Bisa jadi keraguan-keraguan itu berdampak negatif ke mental,” ujarnya, mengenang bagaimana rasa cemas sempat membuatnya kehilangan nafsu makan dan sulit tertidur menjelang lomba.

 

Dari pilihan yang semula dianggap sekedar “opsi aman”, Difa Carissa kini melangkah membawa nama Banten ke kancah FLS3N tingkat Nasional.


Penulis: Alvaro Pratomo

Editor: Salman A. Ridwan