Tak Sengaja Memilih Cerpen, Difa Carissa Justru Melaju ke FLS3N Tingkat Nasional
Pamulang, Banten—Berawal dari keraguan dan
pilihan yang nyaris hanya menjadi “opsi aman”, Difa Carissa justru menemukan
bakat menulisnya hingga berhasil meraih juara 1 FLS3N tingkat Provinsi Banten
dan mewakili Banten di tingkat Nasional.
Cerpen bukanlah pilihan
pertamanya ketika mendengar informasi FLS3N. “Ikut apa engga ya?” Soalnya sudah
kelas 11 akhir, takutnya mengganggu proses belajar kelas 12” ujarnya mengenang
keraguan awalnya. Sempat diarahkan gurunya, Bu Indri Apriliani, untuk mendaftar
komik digital, Difa justru berpindah ke baca puisi sebelum akhirnya mendarat di
cerpen — bidang yang paling sepi peminat, dan karena itu ia anggap paling aman
dari seleksi ketat.
Rencana itu tak berjalan mulus.
Ternyata ada siswa lain yang mendaftar cerpen, sehingga Difa tetap harus
mengikuti seleksi internal sekolah tanpa persiapan matang. Selama ini, siswi
kelas XII.1 Tahfidz SMAMDUMA itu terbiasa merangkai narasi berbahasa Inggris di
platform Wattpad, sehingga ia sempat pesimis dengan kemampuan
menulisnya dalam bahasa Indonesia.
Titik Balik Lewat Sejarah
Persiapan Difa menuju tingkat
kota sempat minim, bahkan direvisi besar baru sehari sebelum lomba
dilaksanakan. Kesalahan yang disadarinya: cerpen awal belum mengangkat unsur
budaya. Berbekal ketertarikannya pada sejarah, ia mengangkat kisah “Sedulur
Singkep” dalam waktu 1 malam dengan bimbingan Ibu Siti Rahmi, Keputusan
mendadak itu sempat membuatnya ragu, tetapi justru menjadi salah satu kekuatan
cerpennya di tingkat kota.
Sejak itu, sejarah menjadi
fondasi tetap dalam tulisannya: perjuangan, tragedi dan keluh kesah perempuan
yang ia bumbui dengan ironi beserta paradoks yang membuat karakter dalam
cerpennya terasa seperti refleksi dirinya sendiri.
Juara, namun Diliputi Rasa Takut
Ketika namanya diumumkan sebagai
juara 1 tingkat provinsi Banten, kebahagiaan Difa bercampur cemas. “Senang,
tapi takut” katanya, sebab gelar itu belum otomatis membawanya ke tingkat
nasional. Ia masih harus mengikuti babak penentuan untuk memperebutkan tiket
mewakili Banten.
Menurut Pak Julian Pranata, S.H.,
Gr., pembina yang mendampinginya selama pelaksanaan FLS3N, babak final
berlangsung di luar dugaan. “Difa ditantang membuat cerpen baru, langsung di
tempat, dengan durasi waktu yang disingkat,” ungkapnya. Instruksi itu tidak
tercantum dalam jadwal resmi dan baru diberitahukan pada hari pelaksanaan, hal
ini mengejutkan Difa maupun kompetitornya. Meski di bawah tekanan ketat dan
rasa panik, Difa berhasil tampil maksimal dan dinyatakan lolos mewakili Banten
ke FLS3N nasional.
Dukungan yang Tak Menuntut Menang
Ibunda Difa mengaku sempat terkejut anaknya terpilih ikut lomba cerpen, apalagi Difa belum pernah berkompetisi menulis sebelumnya. “Yang penting Difa berani mencoba dan menjalani prosesnya,” ujarnya. Ia melihat sendiri bagaimana sifat perfeksionis putrinya membuat naskah dirombak berkali-kali, di tengah kesibukan bimbingan belajar TKA,
Pak Julian menilai kunci
keberhasilan Difa ada pada kematangan persiapan meliputi riset, latihan menulis
dan referensi yang selalu ia siapkan sebelum tampil.
Menatap Panggung Nasional
Kini sebagai perwakilan dari
Provinsi Banten, Difa akan bersaing dengan peserta terbaik dari seluruh
Indonesia. Orang tuanya berharap ia menjalani prosesnya dengan tenang, tanpa
terbebani target menang.
Bagi Difa sendiri, perjalanan ini
mengajarkan satu hal: jangan pernah meragukan diri sendiri. “Bisa jadi
keraguan-keraguan itu berdampak negatif ke mental,” ujarnya, mengenang
bagaimana rasa cemas sempat membuatnya kehilangan nafsu makan dan sulit tertidur
menjelang lomba.
Dari pilihan yang semula dianggap sekedar “opsi aman”, Difa Carissa kini melangkah membawa nama Banten ke kancah FLS3N tingkat Nasional.
Penulis: Alvaro Pratomo
Editor: Salman A. Ridwan