Kembali ke Daftar Artikel
Karya Tulis & Opini

Bahasa Kasih Sayang dalam Al-Qur'an: Mari Mulai Berbicara dengan Hati

Sitti Rahmi Fajriyah, S.Pd. 28 Sep 2026 5 Dilihat 0 Dibagikan
Bagikan: X
Bahasa Kasih Sayang dalam Al-Qur'an: Mari Mulai Berbicara dengan Hati

Kata-kata bisa menguatkan, tetapi juga bisa melukai. Karena itu, dalam kultum kali ini saya mengajak kita semua merenungkan bagaimana Al-Qur'an berbicara kepada manusia, dan bagaimana kita meneladani cara bicara itu setiap hari.

Al-Qur'an, Kitab yang Dibuka dengan Kasih Sayang

Al-Qur'an tidak hanya diturunkan sebagai kitab hukum dan perintah. Ia adalah wujud tertinggi cinta dan kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya (rahmatan lil 'alamin), sekaligus panduan praktis bagi kita untuk berinteraksi dengan sesama.

Lihatlah bagaimana hampir setiap surah dibuka dengan Bismillahirrahmanirrahim, dengan "Maha Pengasih lagi Maha Penyayang", kecuali Surah At-Taubah. Ini menegaskan bahwa inti seluruh ajaran Islam adalah kasih sayang Allah kepada alam semesta.

"Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya: 107)

Kasih Sayang dalam Kata dan Sapaan

Al-Qur'an menyampaikan pesannya dengan kelembutan. Kita bisa menemukannya dalam panggilan penuh sayang "Yaa bunayya" (wahai anakku tersayang) dalam kisah Luqman. Kita juga menemukannya dalam sapaan personal seperti "Yaa ibadi" dan "Yaa ayyuhan-nas", serta dalam ragam kosakata seperti rahmah, mawaddah, dan sakinah (QS. Ar-Rum: 21).

Dari sini ada dua hal yang bisa kita latih:

  1. Menjaga tutur kata. Al-Qur'an memerintahkan perkataan yang lembut, mulia, dan santun. Mari membiasakan diri menahan diri dari membentak, berteriak, dan memaki, lalu menggantinya dengan sapaan yang hangat dan sikap saling menghargai.
  2. Menguatkan empati dan memaafkan. Kasih sayang dalam Al-Qur'an menempatkan empati di atas ego. Kita diajak tulus memaafkan kesalahan orang lain, tidak mudah menghakimi, dan selalu membuka pintu dialog saat terjadi konflik.

Menjadi Pembawa Ketenangan

Menghidupkan bahasa kasih sayang berarti memberi rasa aman kepada orang lain. Jadilah pribadi yang membawa sakinah (ketenangan), memberi sanjungan yang tulus, dan menunjukkan kepedulian nyata (mawaddah). Jangan sampai kita menjadi sumber kecemasan atau tekanan bagi teman, keluarga, dan sesama.

Pondasi bagi Kita yang Mendidik

Sebagai guru, saya meyakini pesan ini wajib kita internalisasikan dalam mendidik. Al-Qur'an memberi teladan komunikasi yang menyentuh jiwa. Luqman menasihati anaknya dengan penuh kasih (QS. Luqman: 13). Allah juga memerintahkan agar kita menyeru dengan hikmah, pengajaran yang baik, dan dialog yang santun (QS. An-Nahl: 125). Rasulullah ï·º menjadi cerminnya:

"Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu..." (QS. Ali Imran: 159)

Dari teladan ini, ada tiga pilar yang menurut saya perlu hadir dalam hubungan guru dan murid:

  • Mahabbah, cinta tulus guru yang mengantar murid sukses dunia dan akhirat.
  • Mawaddah, tindakan nyata guru membangun relasi yang hangat dan penuh empati.
  • Rahmah, kepedulian mendalam yang memberi perlindungan, motivasi, dan pemaafan atas kesalahan murid.

Ketika bahasa kasih sayang hadir dalam belajar-mengajar, prosesnya berubah dari sekadar transfer informasi yang kaku menjadi proses memanusiakan yang menyentuh jiwa. Murid merasa aman, dihargai, dan lebih mudah menerima kebenaran.

Dari Pemahaman Menjadi Perilaku

Pesan terakhir saya sederhana: ubah pemahaman menjadi komitmen perilaku. Al-Qur'an itu penuh kasih, maka mari mulai hari ini memperbaiki cara kita berbicara kepada pasangan, anak, murid, orang tua, dan sesama. Tahan emosi, ganti kalimat kasar dengan perkataan yang mulia (qaulan karima), dan tunjukkan empati serta kepedulian yang nyata.

Sebagai penutup, izinkan saya menitipkan sebuah pantun:

Putih berseri bunga melati
Harum baunya di taman depan
Kasih sayang Al-Qur'an sejukkan hati
Mari amalkan dalam kehidupan

Semoga kasih sayang Al-Qur'an menjadi budaya yang hidup di SMAM Duma, sejalan dengan semangat "Bahagia, Ramah, Berkemajuan".

Dokumentasi : https://www.instagram.com/p/Dd1mjf-DwF-/?utm_source=ig_web_copy_link&stkn=MzRlODBiNWFlZA==