Kembali ke Daftar Artikel
Karya Tulis & Opini

Pesan Al-Qur’an Terkait Bencana Ekologi

Idris Muzohir, S.Km. 02 Oct 2026 7 Dilihat 0 Dibagikan
Bagikan: X
Pesan Al-Qur’an Terkait Bencana Ekologi

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Innal hamda lillah nahmaduhu wa nasta’inuhu, wa nastaghrifuh, wa na’udzu billahi min syuruuri anfusinaa wa sayyiaati a’maalinaa, mayyahdihillahu falaa mudhilla lahu, wa mayudhlil falaa haa diya lahu. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syariika lahu wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuuluhu.


Akhir – akhir ini kita banyak melikhat berita baik di televisi mapun media sosial terkait erupsi anak gunung Krakatau, Karhutla yakni akibat kebakaran hutan di Kalimantan dan berbagai berita bencana lainnya seperti gempa bumi, banjir, tsunami, tanah longsor, serta kekeringan.

Dampak dari berbagai bencana itu semua adalah :

1.      Korban jiwa dan luka – luka,

2.      Kehilangan tempat tinggal,

3.      Rusaknya bangunan dan fasilitas,

4.      Hewan dan tumbuhan kehilangan habitat, serta

5.      Kerusakan ekosistem alam.

 

Itu semua disebabkan oleh siklus alam seperti :

1.      Pergerakan lempeng bumi,

2.      Aktivitas gunung berapi,

3.      Curah hujan tinggi,

4.      Angin kencang dan badai,

5.      Musim kering panjang.

 

Namun tidak hanya itu, bencana yang terjadi juga dapat diakibatkan oleh aktivitas manusia. Seperti :

1.      Penebangan hutan secara liar,

2.      Pembangunan infrastruktur yang tidak memperhatikan AMDAL,

3.      Pembuangan sampah sembarangan, serta

4.      Pemanasan global.

 

Menariknya, jauh sebelum sains modern berkembang, Al – Qur’an  telah menegaskan hubungan erat antara perilaku manusia dengan kerusakan lingkungan. Seperti pada Surah Ar-Rum ayat 41:

 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

 

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (dampak) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Dari sudut pandang ekologi, ayat ini secara tegas menggambarkan mekanisme cause and effect (sebab – akibat). Kerusakan alam, baik erosi, pencemaran air, maupun krisis iklim, merupakan hasil langsung dari ketidaktahuan aturan dan eksploitasi berlebihan yang dilakukan manusia. Allah memberikan dampak tersebut bukan sekadar sebagai hukuman, melainkan sebagai bentuk peringatan (evaluasi) agar kita sadar dan mau memperbaiki perilaku ekologis kita.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena alam diciptakan Allah dalam ukuran dan keseimbangan yang presisi (eco-balance). Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Qamar ayat 49:

 

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

 

"Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran."

Tugas manusia di bumi adalah sebagai khalifah – pemimpin yang memakmurkan dan menjaga alam, bukan merusaknya. Allah melarang keras tindakan merusak lingkungan, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-A'raf ayat 56 :

 

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

 

"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, setelah (Allah) meperbaikinya..."

 

Bapak/Ibu guru dan pimpinan yang saya hormati,

 

Sebagai pendidik, kita memegang peran strategis untuk mentransfer kesadaran ekologis berbasis iman ini kepada para murid. Pendidikan lingkungan tidak hanya sebatas materi IPA atau biologi di dalam kelas, tetapi merupakan bagian dari pendidikan akhlak dan ketakwaan.

Ada tiga langkah sederhana yang bisa kita pelopori bersama di sekolah dan saya yakin sekolah kita sudah melakukan, yakni :

 

  1. Eko-Literasi Berbasis Iman

Menanamkan pemahaman kepada siswa bahwa menjaga kebersihan dan lingkungan adalah bagian mendasar dari ibadah.

  1. Keteuladanan Praktis

Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat energi, serta menjaga kebersihan lingkungan sekolah secara konsisten.

  1. Penanaman Pohon dan Penghijauan

Rasulullah SAW bersabda, "Jika hari kiamat telah tiba sedangkan di tangan salah seorang kalian ada bibit pohon, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya." (HR. Ahmad). Pesan ini menunjukkan betapa krusialnya tindakan nyata sekecil apa pun untuk kelestarian bumi.

 

Marilah kita jadikan momentum ini untuk memperbarui komitmen kita: tidak hanya mencetak murid yang cerdas secara akademis, tetapi juga generasi yang memiliki kesadaran ekologis (ekologi rabbani) untuk melestarikan bumi ciptaan Allah.

 

Nashrun minallahi wa fathun qariib wa basyiril mu'minin,

Fastabiqul khairat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Dokumentasi https://www.instagram.com/p/DeB2dwRj2n9/?utm_source=ig_web_copy_link&stkn=MzRlODBiNWFlZA==