PAMULANG — Di SMA Muhammadiyah 25
Setiabudi Pamulang (SMAM DUMA) ekstrakulikuler tidak hanya dipandang sebatas
kegiatan tambahan di luar pembelajaran kelas. Setelah terpilih menjadi salah
satu sekolah dalam Program Rintisan Pengembangan Ekstrakurikuler dan Karier
Murid SMA yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
(Kemendikdasmen), sekolah itu siap mengembangkan pembinaan yang menghubungkan
minat, bakat, keterampilan, dan pilihan masa depan murid.
Terpilihnya SMAM DUMA menjadi
sekolah rintisan ini merupakan bentuk amanah untuk membangun pembinaan
ekstrakurikuler dan karier secara lebih terarah, mulai dari pemetaan potensi
murid, perencanaan program, pelaksanaan, hingga evaluasi.
Saat ditemui (12/08/2026), Kepala
SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang, Dr. Hartono Rahimi, M.A., menyatakan
bahwa keterpilihan itu merupakan bentuk kepercayaan sekaligus tantangan bagi
sekolah untuk menyiapkan sistem pembinaan yang lebih menyeluruh.
“Terpilihnya SMAM DUMA
sebagai sekolah rintisan ekstrakurikuler dan pengembangan karier ini menjadi
tantangan yang khusus untuk mempersiapkan konsep dan aksi dari hulu ke hilir,
mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Kita berharap sekolah dapat
mempersiapkan semua ini sebaik mungkin sebagaimana kita juga mempersiapkan
program intrakurikuler kita,” ujar Hartono.
Menurut dia, pengembangan
ekstrakurikuler membutuhkan kesiapan yang tidak kalah serius dibandingkan
program pembelajaran intrakurikuler. Karena itu, keterpilihan dalam program
rintisan tersebut menjadi momentum bagi sekolah untuk menata pembinaan agar kegiatan
yang diikuti murid tidak berhenti pada aktivitas rutin, tetapi ikut membentuk
kompetensi dan arah pengembangan diri.
Ekstrakurikuler menyediakan
ruang bagi murid untuk mengembangkan kemampuan yang tidak selalu terlihat
melalui capaian akademik. Olahraga, seni, organisasi, kepemimpinan, dan
berbagai aktivitas keterampilan, misalnya, memberi pengalaman kepada murid
untuk bekerja sama, berkomunikasi, mengambil keputusan, menyelesaikan
persoalan, sekaligus belajar bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.
Di ruang-ruang itulah potensi
murid dapat dikenali dan dikembangkan. Pengalaman yang diperoleh selama
mengikuti ekstrakurikuler juga dapat menjadi bagian dari proses murid memahami
kekuatan dirinya sebelum menentukan pilihan pendidikan dan karier setelah lulus
SMA.
Menghubungkan Minat dengan
Masa Depan
Pengembangan karier di
sekolah pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang profesi yang ingin dipilih
murid. Proses tersebut dimulai dari kemampuan mengenali diri, memahami minat
dan kekuatan, mengeksplorasi pilihan pendidikan, serta memperoleh pengalaman
yang relevan dengan rencana masa depan.
SMAM DUMA sebelumnya telah
memiliki sejumlah kegiatan yang mendukung proses tersebut. Salah satunya
melalui program Goes to Campus, yang memberikan kesempatan kepada murid
untuk mengenal lingkungan perguruan tinggi sekaligus memperoleh gambaran
mengenai program studi dan pilihan pendidikan setelah menyelesaikan jenjang
SMA.
Sekolah juga secara rutin
menyelenggarakan Edufair dengan menghadirkan berbagai institusi
pendidikan dan alumni. Melalui kegiatan tersebut, murid memperoleh informasi
mengenai perguruan tinggi, jalur masuk, beasiswa, serta berbagai kemungkinan
pendidikan dan karier yang dapat dipertimbangkan.
Rangkaian kegiatan tersebut
menjadi modal awal bagi sekolah untuk mengembangkan pembinaan karier secara
lebih terintegrasi. Pengalaman murid dalam ekstrakurikuler dapat dipertemukan
dengan proses pengenalan minat, kemampuan, dan aspirasi mereka.
Wakil Kepala Sekolah Bidang
Kesiswaan SMAM DUMA, Arif Budianto, mengatakan pembinaan ekstrakurikuler
semestinya tidak hanya diukur dari jumlah piala atau kemenangan dalam
kompetisi. Menurut dia, proses yang berlangsung selama kegiatan justru menjadi
bagian penting dari pembentukan kemampuan murid.
“Ukuran keberhasilan
ekstrakurikuler bukanlah semata-mata terletak pada prestasi kompetisi. Proses
pembinaan juga sangat penting karena di dalamnya para murid belajar untuk
mengasah bakat dan keterampilan individu,” ujar Arif.
Pandangan tersebut
menempatkan prestasi sebagai salah satu hasil dari proses pembinaan, bukan
satu-satunya tujuan. Murid yang mengikuti kegiatan olahraga, seni, organisasi,
maupun bidang keterampilan lainnya memperoleh pengalaman yang dapat membentuk
disiplin, daya juang, kreativitas, kepemimpinan, dan kemampuan bekerja dalam
tim.
Menjadi Ruang Pengembangan
Tantangan SMAM DUMA setelah
ditetapkan sebagai sekolah rintisan adalah memastikan program tersebut tidak
berhenti pada label atau status sebagai sekolah terpilih. Keterpilihan itu
perlu diterjemahkan menjadi sistem pembinaan yang dapat dirasakan langsung oleh
murid.
Salah satu langkah penting
ialah memetakan minat dan bakat murid secara lebih terarah. Pemetaan tersebut
dapat menjadi dasar bagi sekolah untuk melihat kesesuaian antara pilihan
ekstrakurikuler, kemampuan yang sedang dikembangkan, serta kebutuhan pengembangan
diri setiap murid.
Evaluasi kegiatan dan
peningkatan kualitas pembina juga menjadi bagian penting. Dengan demikian,
sekolah tidak hanya mengetahui kegiatan apa yang diikuti murid, tetapi juga
dapat melihat perkembangan kompetensi yang mereka peroleh dari kegiatan
tersebut.
Pendekatan berbasis potensi
menjadi penting karena kemampuan murid tidak selalu tercermin dalam nilai
akademik. Seorang murid mungkin menemukan kekuatannya ketika memimpin
organisasi, tampil di panggung, berkompetisi di bidang olahraga, bekerja dalam
sebuah tim, atau mengembangkan keterampilan tertentu secara konsisten.
Pengalaman tersebut dapat
menjadi bahan bagi murid untuk mengenali dirinya sendiri. Pada tahap
berikutnya, pengenalan itu dapat dipertemukan dengan informasi mengenai pilihan
pendidikan dan kebutuhan dunia kerja sehingga perencanaan masa depan tidak sepenuhnya
dibangun berdasarkan perkiraan.
Dengan demikian, program
rintisan yang diselenggarakan oleh Kemendikdasmen ini membuka kesempatan bagi
SMAM DUMA untuk membangun ekosistem pembinaan yang lebih utuh. Pembelajaran
tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman murid
ketika berorganisasi, berlatih, berkarya, berkompetisi, dan berinteraksi dengan
lingkungan.
Upaya itu sejalan dengan
semangat “Bahagia, Ramah, Berkemajuan” yang menjadi arah pendidikan SMAM DUMA
dalam membentuk murid yang bertakwa, berakhlak mulia, unggul, terampil, dan
memiliki daya saing.
Dengan terpilihnya sebagai sekolah rintisan, SMAM DUMA tidak hanya berhenti pada pertanyaan tentang kegiatan
ekstrakurikuler apa yang dimiliki sekolah. Tetapi, tantangan yang lebih besar adalah
bagaimana setiap kegiatan mampu menjadi ruang bagi murid untuk mengenali
dirinya, mengembangkan kompetensinya, dan menemukan kemungkinan masa depannya.
Di titik itulah
ekstrakurikuler akan selalu menjadi bagian dari perjalanan murid untuk mengenali potensi,
membangun kemampuan, dan menyiapkan pilihan hidupnya. (*)